Skeptisisme juga dianggap sebagai salah satu bentuk keyakinan, Apa itu keyakinan? Saya yakin jika besok akan turun hujan, atau saya yakin ketika saya sudah besar saya kan menjadi seorang dokter, kita sering kali memiliki keyakinan atas hal tertentu, namun apakah kita sadar dan tahu apakah keyakinan itu. Bahkan dalam kehidupan beragama, kita yakin akan adanya tuhan, yakin adanya surga dan neraka, namun apakah keyakinan kita benar adanya, apakah kita meyakini yang salah?
Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai keyakinan maka kita perlu untuk tahu terlebih dahulu mengenai pengetahuan. Perlu ditegaskan bahwa keyakinan berbeda dengan pengetahuan, walaupun adanya hubungan yang erat diantara keduanya. Baik keyakinan ataupun pengetahuan merupakan sikap mental seseorang dalam hubungannya dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi, hanya saja dalam keyakinan, objek yang disadarinya ada itu tidaklah perlu benar-benar adanya, sebaliknya dalam pengetahuan objek yang disadari ada itu memang ada sebagaimana adanya.
Jadi untuk keyakinan apa yang kita anggap ada dan terjadi itu tidaklah harus nyata memang ada dan betul-betul terjadi cotohnya tadi kita yakin besok akan turun hujan, maka keyakinan kita tersebut bisa jadi salah namun kita tetap mempercayai meskipun besok tidak akan turun hujan. Anggapan tersebut berbeda dengan pegetahuan, pengetahuan haruslah objek yang kita sadari tersebut harus benar-benar ada dan terjadi. Contohnya benda bila dilempar akan jatuh kebawah, hal tersebut pasti dan nyata memag terjadi, maka hal tersebut dianggap sebagai pengetahuan.
Dengan demikian pengetahuan tidaklah sama dengan keyakinan karena keyakinan bisa saja keliru namun masih sah untuk dianut sebagai keyakinan. Apa yang disadarinya sebagai ada bisa sebagai hal yang tidak ada, berbeda dengan pengetahuan, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena bila pengetahuan terbukti salah atau keliru tidak bisa dianggap lagi sebagai pengetahuan, apa yang dianggap sebagai pengetahuan tersebut berubah menjadi keyakinan.
Apa itu skeptisisme? Salah satu persoalan yang perlu disinggung dalam pengetahuan dan keyakinan adalah persoalan mengenai: Apakah pengetahuan itu mungkin dicapai? Apakah kita benar-benar tahu? Bagaimana kita bisa merasa yakin (be sure) kalau kita tahu? Bukankah apa yang kita tahu hanya tipuan belaka? Singkatnya, bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?
Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apapun, maksunya yaitu bagi orang yang menganut skeptisisme menyatakan bahwa mustahil orang mengeahui sesuatu, atau paling tidak orang tidak pernah merasa pasti atau yakin apakah ia bisa mencapai pengetahuan tertentu. Hal yang mendasarinya yaitu manusia perlu mempunyai bukti untuk mengetahui ia telah tahu sesuatu. Cotohnya bila kita yakin bahwa besok akan turun hujan, maka keyakinan tersebut patut diragukan karena kita tidak tahu akan apapun, kita hanya menduga-duga apa yang akan terjadi, karena besok akan turun hujan memang bukanlah sesuatu yang pasti, bagi kaum skeptisisme orang tidak akan pernah tahu tentang apapun, karena mustahil orang mengetahui sesuatu karena tidak memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan karena besok akan turun hujan.
Skeptisisme sudah berkembang sejak zaman Yunani kuno pada kelompok-kelompok kaum filsuf yang dikenal dengan nama kaum sofis. Mereka meragukan kemungkinan pengetahuan akan alam karena mereka beranggapan manusia adalah ukuran dari segala-galanya. Makanya pengetahuan alam tidaklah mungkin, dan seandainya pengetahuan alam itu ada harus bersumber kepada manusaia itu sendiri. Seperti yang dikutip Sony Keraf dan Michael Dua: Gorgias, misalnya mengatakan (a) tidak ada yang benar-benar ada; (b) kalaupun ada sesuatu di dunia ini, kita tidak bisa mengetahui; (c) kalau kita bisa mengetahuinya kita tidak bisa mengkomunikasikannya kepada orang lain. Dengan kata lain, bagi kaum sofis pengetahuan merupakan konstruksi sosial manusia dan tidak ada realitas yang diketahui sebagaimana adanya dan terjadi. Manusia adalah sumber dari sumber segala sesuatu, pengetahuan kan perkembang dari manusia itu sendiri, namun manusia sendiri tidaklah mempunyai kemampuan untuk mengetahui sesuatu, karena mustahil manusia mengetahui sesuatu yang tidak mungkin diketahuinya.
Anggapan yang mengakibatkan munculnya skpetisisme adalah menyangkut soal kepastian, kepastian dari suatu objek yang disadari itu apakah benar-benar ada atau hanya sebatas keyakinan. Pengetahuan itu diklaim benar apabila memang benar-benar nyata, karena tidak ada yang dapat diketahui bila kecuali memang hal tersebut memang benar-benar terjadi. Asumsinya bila kita tahu akan sesuatu maka kita pasti benar dan tidak bisa salah. Kita pasti benar kalau kita memiliki pengetahuan. Namun pernyataan tersebut mengakibatkan persoalan lain, bagaimana kita dapat mengatahui apa yang kita ketahui itu benar, apakah dengan menggunakan bukti, lalu bagaimana kita yakin apakah bukti yang kita gunakan dan percayai itu benar adanya, karena kita tidak pernah yakin, dan mustahil kita paham akan sesuatu untuk membuktikan bahwa bukti itu memang benar adanya.
Menurut pemahaman skeptisisme inilah kita tidak akan mungkin memberikan bukti atas proposisi yang cukup untuk menguatkan pernyataan kita tahu akan sesuatu. Kaum sekptis mempertanyakan apakah kita mampu mendapatkan informasi yang diandalakan untuk membuktikan pengetahuan. Karena sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang kita ketahui itu benar-benar nyata, maka kita tidak pernah tahu akan sesuatu, maka tidak ada orang satupun yang tahu tentang dunia disekitarnya dan singkatnya pengetahuan itupun tidaklah ada. Sehingga manusia menjadi tetap mustahil untuk mengetahui sesuatu karena tidak memiliki kemampuan untuk membuktikan kenyataan tersebut, pengetahuan tidak ada karena manusia tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas akan bukti dari apa yang dianggap tahu, sehingga apabila manusia sampai mengetahui sesuatu maka dianggap ia tidak akan pernah salah atau selalu benar.
Dalam sejarahnya pendapat dari kaum skeptis telah banyak menyumbangkan hal yang berharga bagi perkembangan ilmu filsafat itu sendiri, karena sikap dasar skeptis inilah mampu meragukan secara positif dari setiap klaim atau bukti yang diperoleh, hingga pada tingkat tertentu hal ini mengembangkan sikap kritis, sikap yang tidak mudah percaya pada apa saja. Sebagaimana filsafat itu sendiri yang senantiasa mempertanyakan segala sesuatu. Sikap ini selanjutnya dikembangkan oleh Rene Descrates, dan menjadi metode filsafat yang paling mendasar dan sekaligus meletakkan dasar bagai perkembangan filsafat modern sekarang ini.
Dalam filsafat melalui perkembangan filsafat oleh Rene Descrates tersebut, menghasilkan ada dua aliran yang mencoba menjawab bagaimana kita secara pasti tahu akan sesuatu, yaitu kaum rasionalis yang beranggapan bahwa kita dapat sampai kepada pengetahuan yang pasti hanya dengan menggandalkan akal budi. Jadi pengetahuan tersebut didapatkan dari akal budi manusia, orang mengetahui sesuatu dilihat dari akal budi manusia. Sedangkan bagi kaum empiris ini, kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti dengan mengandalkan pancaindra kita yang memberi kita informasi tentang objek tertentu. Jadi kita menjadi tahu sesuatu dengan menggunakan panca indra kita untuk mencapai derajat pengetahuan tersebut. Orang akan tahu dengan mengoptimalkan panca indra yang akan memberikan informasi tentang objek tertentu.
Dengan sikap untuk meragukan segala sesuatu tersebut, termasuk apa yang kita anggap sebagai benar, diharapkan kita akan dapat memperoleh kebenaran yang lebih pasti dan sempurna. Itualah yang menjadi asumsi bahwa tidak berarti bahwa pengetahuan adalah hal yang mustahil dicapai oleh manusia, karena manusia selalu berusaha memperoleh kebenaran yang lebih pasti dan lebih sempurna. Ada beberapa alasan mengenai kenapa pandangan skeptisisme mempunyai pandangan yang keliru mengenai sesuatu, yaitu: Pertama, skeptisisme keliru beranggapan bahwa kalau kita tahu sesuatu kita tidak akan pernah salah. Benar dan salah adalah kategori yang digunakan untuk menilai pengetahuan, atau proposisi itu benar apabila proposisi tersebut sesuai dengan kenyataan, atau sebaliknya salah apabila tidak sesuai dengan keyakinan. Contohnya bila kita tahu akan adanya gaya gravitasi yaitu setiap benda yang dilemparkan akan jatuh kebawah maka kita akan tahu kita tidak akan pernah salah sehingga dapat dikatakan bahwa proporsi tersebut sesuai dengan kenyataan karena disadari memang benar-benar terjadi dan ada. Kedua, kenyataan selalu menunjukkan adanya konsep berpasangan antara hitam dan putih, benar dan salah, kecil dan besar, berat dan ringan, tahu dan tidak tahu. Karena skeptisisme menerima bahwa manusia tidak pernah tahu akan sesuatu, itu sudah sendirinya menunjukkan bahwa yang sebaliknya pun harus diterima sebagai kemungkinan, yaitu bahwa manusia akan tahu segala sesuatu. Konsekuensinya bahwa apa yang dikatakan atau dikemukakan kaum skeptisisme akan termentahkan secara otomatis sebagaimana konsep saling berpasang-pasangan, yaitu ada hitam pasti ada putih, ada benar dan pasti ada salah, dst. Ketiga, Skeptisme yang radikal akan melahirkan berbagai kontradiksi. Kaum skeptis menyatakan bahwa ”semua keyakinan kita perlu diaragukan” ini mengandaikan bahwa kaum skeptis itu sendiri yakin bahwa penyataan atau keyakinan bahwa ”semua keyakinan kita perlu diaragukan” haruslah benar. Padaha dengan pernyataan tersebut pernyataan yang menyatakan ”semua keyakinan kita perlu diaragukan” juga harus diragukan. Jadi pernyataan kaum skeptis bahwa ”semua keyakinan kita perlu diaragukan” juga tidak benar, dan karena itu jangan dianggap serius. Karena keyakinan sendiri adalah sikap mental sesorang yang disadari ada dan terjadi namun apa yang disadarinya ada dan terjadi tersebut dapat saja tidak terbukti atau tidak benar-benar nyata adanya. Jadi yang dimaksud perkataan kaum skeptisisme akan menjadikan kontradiksi sendiri yaitu setiap apa yang diyakini oleh kaum skeptisisme itu sendiri juga merupakan suatu keyakinan maka hal tersebut dapat saja diragukan sebagaimana kaum skeptisisme meragukan hal lainnya.
Hal yang sama berkaitan dengan klaim kaum skeptis tentang mustahilnya pengetahuan manusia. Kaum skeptis beranggapan bahwa semua pengetahuan perlu diragukan. Ini berarti pengetahuan kaum skeptis bahwa semua pengetahuan perlu diragukan, juga harus diragukan. Sama halya dengan keyakinan kaum skeptisisme yang perlu diragukan, pengetahuan kaum skeptis juga perlu diragukan karena ia juga meragukan bahwa mustahil manusia untuk mengetahui sesuatu karena manusia tidak mempunyai bukti yang jelas untuk menjelaskan apa yang ia ketahui, hal tersebutlah yang mendasari bahwa kaum skeptisisme juga mempunyai pengetahuan akan sesuatu yang perlu juga diragukan kebenarannya. Untuk itulah mengapa apa yang diketahui dan diyakini oleh kaum skeptisisme juga merupakan suatu bentuk dari keyakinan, sebagaimana keyakinan dan pengetahuan kaum lainnya.
Daftar pustaka
Keraf, Sony. Mikhael Dua, 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar




halooo salam kenal
om davit tulisanmu kok abot yah..
aduh pusing neeeeeeeh, skripsi…okhhhh
matur tenkyu
thanks atas buah tangannya!
maturtenkyu